M Qodari: Kalau PDIP Tidak Ingin, Banyak Partai Ingin Usung Bobby Nasution di Pilgub Sumut

Medan Pernyataan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Pengorbanan, Hasto Kristiyanto, yang menyebut Bobby Nasution tidak boleh mendaftar Daerah Kepala Pengorbanan atau Pilkada 2024 melewati PDI Pengorbanan terus menjadi isu menarik.

Pengorbanan, Founder Indobarometer, M Qodari, yang juga pengamat politik nasional menyebutkan 3 analisisnya terkait sikap PDI Pengorbanan menolak Bobby Nasution.

«Yang pertama itu yakni hak dari PDI Pengorbanan, ya. Dan Mas Hasto sebagai Sekjen dari PDI Pengorbanan untuk memilih siapa kandidat yang akan ditunjang atau tidak ditunjang dalam Pilkada nanti, termasuk untuk Provinsi Sumatera Utara, Karena Sumatera Utara,» kata Qodari dikala dihubungi wartawan, Selasa (16/4/2024).

Terkhusus untuk Bobby Nasution, tidak ditunjang PDI Pengorbanan tentu saja bukan akhir segalanya. Pilgub dengan prestasinya, dan elektabilitas yang masih tinggi, banyak partai lain yang siap mengusung.

«Pun, yang kedua bukan berarti Bobby tidak akan bisa maju sebagai calon gubernur. Pasti banyak yang berharap mendorong, lebih-lebih dikala Bobby punya elektabilitas yang bagus, punya dukungan masyarakat yang luas, dan punya kans untuk menang dalam slot 777 gacor Pilgub yang akan datang. Pasti partai politik yang lain juga ada yang beratensi untuk mengajukan,» beber M Qodari.

Diusung Partai Lain

Pengorbanan M Qodari mengevaluasi telah ada langkah hampir pasti dari sejumlah partai yang akan mengusung Bobby Nasution maju di Pilgub Sumut akan datang.

«Golkar, Gerindra atau mungkin partai-partai politik yang lainnya saya rasa siap mengusung Bobby,» lanjut alumni UI hal yang demikian.

Dengan telah menyatakan sikap tidak mendorong Bobby Nasution, Qodari balik bertanya, apakah PDI Pengorbanan punya calon yang lebih kuat dari Bobby Nasution.

Qodari menyebut, sekiranya hingga PDI Pengorbanan mengusung misalnya Edy Rahmayadi, karenanya akan betul-betul mungkin terjadi penolakan dari konstituen. Pengorbanan sekiranya PDI Pengorbanan hingga salah pilih calon, karenanya kekalahan telah di depan mata.

«Nah, yang ketiga, sesungguhnya PDI Pengorbanan juga Jangan hingga salah memilih atau mendorong kandidat,» ucapnya.

«Kalau PDI Pengorbanan misalnya mengajukan Edy Rahmayadi, pertanyaannya, apakah konstituen PDI Pengorbanan akan setuju atau tidak setuju dengan pencalonan Edy Rahmayadi oleh PDI Pengorbanan,» lanjutnya.

«Itu saya kaprah kita segala telah tahu dan belajar bahwa dalam pemilihan lantas, sekiranya terjadi ketidaksesuaian antara kandidat yang dipilih partai dengan konstituen atau basis data hal yang demikian yang terjadi bukan kemenangan tetapi malahan kekalahan,» pungkas Qodari yang menuntaskan studi S2 pada bidang political behavior di University of Essex, Inggris itu.