Resep Katan Sarikayo makanan warisan bersama untuk berbuka puasa Ramadhan

Katan Sarikayo, makanan khas Sumatera Barat dan beberapa daerah di Riau seperti Kampar, Kuantan Singingi dan Pekanbaru, merupakan makanan yang mengejutkan dengan kombinasi rasa manis dan rasa.

Di kawasan Kuantan Singingi, Katan Sarikayo disebut juga Puluik Kucuang. Makanan ini merupakan slot gacor 777 warisan budaya yang turut memperkaya tradisi kuliner Indonesia, khususnya di bulan Ramadhan. Disebut “puluik kucuang” karena hidangan ini dibungkus dengan daun pisang yang diikat dengan karet gelang, karet gelang atau bambu (rantai). Bila ingin memakannya, campurkan dengan sarikaya.

Katan Sarikayo bukan hanya sekedar makanan, tapi juga bagian dari budaya Minangkabau dan Riau Malaysia. Dulunya, hidangan ini hanya muncul pada acara-acara khusus seperti upacara adat atau pernikahan, sehingga menambah sentuhan kemewahan pada acara tersebut.

Untuk masakan tradisional hari raya seperti ini, sering digunakan telur bebek yang memiliki kuning telur lebih tinggi dibandingkan telur ayam. Selain itu, bahan utama yang digunakan untuk membuat sarikaya adalah gula jawa. Ini tidak rumit, menyenangkan tapi tidak buruk. Makanan tradisional seperti katan sarikayo hanya dapat ditemui pada saat festival atau upacara adat lainnya. Tidak sering disajikan di restoran. Selain kegiatan tradisional, katan sarikayo juga terlihat selama Ramadhan sebagai makanan puasa.

Meski dulu Katan Sarikayo terkesan unik dan sulit ditemukan, namun kini banyak upaya yang dilakukan untuk menghidupkan kembali cita rasa makanan tradisional tersebut. Di banyak tempat tampil dengan warna-warna modern yang memberikan warna baru pada cita rasa masakan Indonesia.

Berikut ini adalah resep Katan Sarikayo sederhana yang sering saya dan keluarga masak di rumah, namun anda bisa mencobanya sendiri dan digunakan untuk berbuka puasa Ramadhan yang tinggal beberapa minggu lagi.